• Jumat, 21 Januari 2022

Tren Meningkat, Varian Baru, dan Langkah Pencegahan Covid-19

- Sabtu, 29 Mei 2021 | 09:10 WIB
covid3
covid3

Jakarta, Indikatornews.com – Tren tingkat keterisian tempat tidur isolasi rumah sakit rujukan Covid-19 pasca libur hari raya Iedul Fitri 1442 H memperlihatkan peningkatan. Peningkatan ini terlihat di tingkat nasional yang merupakan kontribusi dari 5 provinsi dengan kenaikan tertinggi yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, dan DI Yogyakarta. "Adapun peningkatannya menunjukkan variasi, namun trennya terjadi selama 5-6 hari terakhir," demikian diungkapkan Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (28/05). Peningkatan tempat tidur isolasi mulai terlihat dengan membandingkan data pada 20 Mei dan 26 Mei 2021. Peningkatan  secara nasional sebesar 14,2% yakni dari 20.560 menjadi 23.488 tempat tidur. Peningkatan ini merupakan kontribusi dari 5 provinsi karena mengalami kenaikan BOR antara 18-23% dalam rentang waktu yang sama dengan kenaikan di tingkat nasional. Di Jakarta keterisian tempat tidur isolasi naik 23,7% dari 3.108 menjadi 3.846, Jawa Barat naik 30,2% dari 3.003 menjadi 3.615, Jawa Tengah naik 23,14% dari 2.567 menjadi 3.161, Banten naik 21,2% dari 816 menjadi 959, serta DI Yogyakarta naik 18,8% dari 495 menjadi 585 tempat tidur terisi. “Ini artinya, peningkatan kasus juga terjadi pada pasien dengan gejala sedang dan berat sehingga membutuhkan ruang isolasi. Ini adalah alarm keras, terutama provinsi-provinsi di Pulau Jawa," tegas Wiku.
-
Data Covid-Per 28 Mei. (Satgas Covid-19) Varian Baru Alarm keras memang perlu dibunyikan sebagai tanda peringatan. Intinya, jangan main-main dengan Covid-19, apalagi menganggap enteng. Bukan apa-apa, di tengah upaya pemerintah untuk terus menekan penyebaran penularan, plus terus digencarkannya program vaksinasi, ancaman baru sudah muncul di depan mata dengan adanya varian baru. Ancaman varian baru virus SARS-CoV-2 membutuhkan respons cepat untuk mencegah penularan berkelanjutan. Perlu langkah-langkah strategis untuk mempercepat pencegahan dan pengendalian Covid-19. Caranya, tentu saja dengan mempercepat dan meningkatkan kapasitas pemeriksaan, pelacakan, karantina, dan isolasi. Cara-cara di atas merupakan satu proses rangkaian kegiatan yang berkesinambungan yang akan berhasil  apabila dilaksanakan dengan cepat dan disiplin. Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaannya dan koordinasi antara unit pemerintah pada berbagai level adalah kunci dari keberhasilan. Pelaksanaan dari kegiatan ini pun telah dituangkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor Hk.01.07/Menkes/4641/2021 tentang Panduan Pelaksanaan Pemeriksaan, Pelacakan, Karantina, dan Isolasi dalam Rangka Percepatan Pencegahan Dan Pengendalian COVID-19. Mengutip laman kawalcovid19.id, munculnya varian baru Covid-19 membuat Pusat Pengendali dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan tiga kriteria. Kriteria tersebut untuk menjelaskan sudah sejauhmana yang kita ketahui tentang perubahan virus, sekaligus membantu mengenal risiko-risikonya. Ketiga kriteria itu, yakni Variant of Concern, Variant of Interest dan Variant of High Consequence. Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) Variant of Interest dapat diartikan sebagai mutasi virus SARS-Cov-2 atau varian yang perlu mendapat perhatian karena berpotensi meningkatkan laju penularan (transmissibility) dan tingkat keparahan (severity). Maka diperlukan penelitian lebih lanjut guna mengetahui sifat penularan varian baru tersebut. Varian yang termasuk kriteria ini yaitu B.1.1.7 yang ditemukan di Inggris pada September 2020, B.1.351 yang pertama kali dilaporkan di Afrika Selatan pada September 2020 dan B.1.1.281 alias P.1 yang muncul di Brasil pada Desember 2020. Sedangkan Variant of Concern atau varian yang patut diwaspadai merupakan varian yang telah terbukti lebih menular atau menyebabkan penyakit yang lebih parah. Varian ini terdapat pada B.1.525 di Nigeria, B.1.427/B.1.429 di Amerika Serikat, B.1.1.28.3 alias P.3 di Filipina, B.1.616 di Perancis,  B.1.620 tidak diketahui asalnya, B.1.621 di Kolombia, B.1.617.1, B.1.617.2, B1.617.3 yang ketiganya disebut varian triple-mutant dari India. Khusus varian India ini, WHO telah menaikkan statusnya dari Variant of Interest ke Variant of Concern.
-
Kriteria ketiga Variant of High Consequence, yaitu varian yang memiliki tingkat konsekuensi tinggi dengan ditemukannya bukti ilmiah tidak berfungsinya tes diagnosis, penurunan efektivitas vaksin pada mereka yang sudah divaksin namun terjangkit penyakit atau rendahnya proteksi vaksin terhadap terjadinya penyakit parah. Terdapat penurunan kepekaan terhadap berbagai pengobatan yang sudah mendapat Emergency Use Authorization (EUA). Meningkatnya jumlah kasus yang parah dan tingginya angka masuk perawatan ke rumah sakit. Sampai sejauh ini, menurut CDC, belum ada varian baru yang tergolong ke dalam kriteria ini. Langkah Pencegahan  Ada sejumlah kiat atau langkah pencegahan yang dapat kita lakukan untuk meminimalisir terpaparanya Covid-19:
  1. Terapkan langkah pencegahan ABC
Upaya terbaik untuk tetap aman adalah dengan mengikuti langkah pencegahan ABC, yaitu sebuah pendekatan yang dulunya digunakan untuk mencegah campak sebelum vaksin ditemukan. Tujuannya untuk menekan penyebaran virus serendah mungkin hingga vaksinasi telah mencapai dua pertiga dari jumlah populasi. Langkah-langkah ABC yaitu: Airway atau saluran udara: Lindungi diri Anda dengan pelindung berbentuk penghalang. Bubble atau lingkaran sosial: Berkumpullah dengan orang-orang terdekat Anda dalam kelompok kecil. Contacts atau daftar kontak erat: Apabila seseorang dalam lingkaran Anda tertular virus, maka pelacakan kontak akan mudah. Gunakan aplikasi pelacakan kontak, seperti aplikasi peduli lindungi milik Kominfo.
  1. Persempit lingkaran sosial Anda
Setiap orang yang berkunjung dan menghabiskan waktu bersama Anda di dalam rumah dapat meningkatkan risiko paparan virus dan membuat pelacakan kontak lebih sulit. Pembatasan lingkaran sosial kita adalah langkah yang tepat untuk membatasi anggota keluarga atau orang terdekat lainnya yang akan masuk ke dalam lingkaran sosial Anda.
  1. Jangan sering belanja di tempat
Alih-alih berbelanja makanan, pakaian, dan kebutuhan lainnya dengan rileks yang memakan waktu banyak cobalah persingkat waktu yang Anda habiskan untuk berbelanja terutama di dalam ruangan seperti mall, pasar. Sebab setiap menit waktu yang dihabiskan untuk berbelanja di dalam ruangan akan meningkatkan risiko tertular. Selalu gunakan masker dengan baik dan benar karena jika jarak antar orang tidak bisa dikendalikan maka satu-satunya pelindung bagi diri kita adalah masker yang dipakai dengan baik dan benar. Bila memungkinkan, gunakan opsi drive thru atau layanan pengiriman untuk mengurangi paparan.
  1. Pikirkan kembali tentang pengaturan kerja dan sekolah
Jika Anda tidak bekerja dari jarak jauh (remote), bekerjalah di luar ruangan, jika memungkinkan. Masker harus selalu digunakan jika bekerja di dalam ruangan dan buatlah rutinitas istirahat keluar ruangan setiap beberapa jam sekali. Perhatikan juga ventilasi ruangan dan sirkulasi udara. Sekolah sebagai tempat belajar juga harus mengurangi jumlah siswa atau mengajak para siswa belajar di ruang terbuka, jika cuaca memungkinkan.
  1. Beribadah dengan bijak
Menurut survei yang dilakukan terhadap beberapa ahli epidemiologi didapatkan bahwa tempat ibadah digolongkan sebagai lokasi yang berisiko tinggi penularan virus, selain bar, penjara, panti jompo, dan restoran dalam ruangan. Beribadah di rumah mungkin tidak nyaman ketika bersama jemaah lainnya namun itu akan membantu Anda merasa aman dari potensi tertular. Ibadah virtual merupakan solusi yang tepat di masa pandemi. Bila terpaksa harus beribadah di rumah ibadah, pastikan menjaga jarak antar jemaah, menggunakan masker, kurangi durasi ibadah dan kapasitas jemaah.
  1. Gunakan masker
CDC melaporkan bahwa data epidemiologi menunjukkan penggunaan masker yang baik dan benar dan dilakukan oleh semua orang dapat mengurangi penyebaran SARS-CoV-2. Meskipun masker kain tetap memberi perlindungan, namun kemampuan masker melindungi dari paparan virus bergantung pada jenis kain, jumlah lapisan kain dan seberapa cocok masker tersebut, menurut CDC. Dapatkan masker yang lebih efektif, seperti masker bedah yang rapat atau N95. Jika tak memiliki masker yang bagus, memakai dua masker mungkin bisa melindungi daripada hanya memakai satu. Namun begitu, memakai dua masker tidaklah perlu jika masker memiliki dua lapisan.
-
Vaksinasi di Jakarta-beritajakarta.id
  1. Gunakan pembersih tangan sesering mungkin
CDC terus merekomendasikan penerapan kebersihan yang baik dengan sering mencuci tangan dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik. Selain itu, gunakan pembersih tangan yang mengandung setidaknya 60 persen alkohol jika sabun dan air tidak tersedia. Bawalah satu botol kecil pembersih tangan sehingga dapat langsung digunakan setelah melakukan aktivitas.
  1. Ikuti vaksinasi
Vaksin dapat menciptakan respons antibodi yang dapat melindungi tubuh dari paparan COVID-19. Bila sudah terpapar, vaksin dapat menghalau penderita dari sakit parah atau potensi komplikasi akut. Vaksin juga membantu melindungi orang di sekitar terutama yang berisiko tinggi terkena penyakit parah karena adanya penyakit penyerta. Semoga bermanfaat… (dari berbagai sumber)    

Editor: Kesit B Handoyo

Tags

Terkini

Tempat Wisata Dengan Tingkat Kecelakaan Tinggi

Selasa, 21 Desember 2021 | 17:10 WIB

Tempat Wisata Dengan Tingkat Kecelakaan Tinggi

Selasa, 14 Desember 2021 | 19:53 WIB

Terpopuler

X