• Rabu, 8 Desember 2021

Masyarakat Diminta Lebih Cerdas Saring Berita Covid-19

- Minggu, 15 November 2020 | 09:36 WIB
fake_news
fake_news

Jakarta, Indikatornews.com – Masyarakat diimbau untuk lebih cerdas dan mampu memilih mana informasi yang layak dan benar serta mana yang menyesatkan alias hoax. Sejak adanya Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama lebih dari 8 bulan, sepanjang waktu itu pula begitu banyak informasi yang beredar. ‘’Informasi yang hoax hanya untuk memperkaya wawasan saja. Kita harus bisa membedakan dengan baik, mana yang valid dan mana yang hoax,’’ ungkap alumnus Fakultas Farmasi UGM apt Drs Julian Afferino, MS, dalam percakapan live Instagram, Kamis (12/11). Dipandu host wartawan senior apt Dra Tresnawati, Julian, ahli farmasi senior, membahas lebih jauh mengenai pernyataan Aliansi Dokter Dunia yang sempat menggegerkan beberapa waktu lalu. Ia kemudian membandingkannya dengan laporan  yang dirilis oleh Dr Luca Carsana dari Papa Giovani XXII dan Luigi Saco Hospital dari Bergamo, Milan, Italia. Dalam rilisan tersebut, disebutkan adanya 38 kasus kematian yang diduga akibat Covid-19. Dari dugaan itu kemudian ditindaklanjuti dengan melalukan otopsi. Ditemukan adanya platelet fibrin thrombin, yaitu pembekuan darah di jaringan halus paru yang berfungsi mensuplai oksigen. Atas temuan itu mereka melakukan langkah berikutnya, yaitu mengumpulkan seluruh data medis pasien dan menemukan, dari 38 kasus itu ternyata 9 pasien menderita Diabetes Mellitus, 18 kasus hipertensi, 4 kanker tahap lanjut, 11 gangguan kardiovaskuler dan 3 menderita gangguan paru kronis. Dari data itu kesimpulan kematian yang diduga akibat Covid-19, ternyata tidak semata akibat virus SARS Cov-2, tetapi ada penyakit penyerta yang menyebabkan fatality risk nya meningkat. ‘’Dari kasus di Papa Giovani XXIII hospital ini, kesimpulan didapat berdasarkan fakta yang valid, tapi kemudian ada pihak tertentu yang mendompleng fakta tersebut untuk memproduksi hoax,” Julian menjelaskan. Dari ditemukannya platelet fibrin thrombin saat otopsi kemudian secara tidak bertanggungjawab ada yang menyebut, dengan begitu, maka obat Covid-19 cukup obat pengencer darah. Kemudian menyeberang ke New Meksiko beredar info, untuk mengobati covid-19 hanya membutuhkan aspirin dan jus lemon, berita ini adalah hoax. Hoax yang dibuat berdasarkan fakta valid yang bersumber dari penelitian di Italia tersebut. Pernyataan dari Italia tersebut adalah tinjauan berdasarkan sudut pandang medis,’’ terang CEO Pharmacare Consulting ini. Ia kemudian membandingkan dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh The World Doctors Alliance yang didirkan oleh dr Heiko Schoning, dari Jerman. Mereka mengklaim, pemerintah Jerman tidak transparan dalam menangani pandemi Covid-19 ini. Mereka juga menyebutkan berbagai pendapat yang mengatakan, pandemi Covid-19 adalah sebuah konspirasi dan penyakit itu tidak lebih dari flu biasa. Hasil investigasi yang dilakukan oleh ACU tersebut, pada saatnya akan menjawab semua pertanyaan dan tuduhan yang disematkan bersamaan dengan pandemi Covid-19 ini. ‘’Jadi berbeda dengan pernyataan yang datang dari Italia yang disampaikan berdasarkan pandangan medis, maka pernyataan dari Jerman ini tidak berdasarkan pandangan medis semata, namun ada nuansa politisnya, berkaitan dengan rencana pemilihan umum yang diselenggarakan pemerintah Jerman pada Januari 2021 nanti,” kata Julian. Mengutip pernyataan dari website mereka, Julian menyebutkan, pada saat ACU diresmikan pada 31 Mei 2020 lalu, dihadapan 5.000 orang di Stuttgard, sangat bernuansa politis. Sehingga apa yang disampaikan Heiko Schoning ini tidak perlu ditanggapi, karena melalu komite akan membuktikan dengan sendirinya, dan kesimpulannya akan didapat usai pemilu di Jerman pada Januari 2021. Rapid Tes Dalam kesempatan tersebut juga dibahas mengenai tiga jenis test yang selama ini digunakan untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi Covid-19, yaitu rapid tes antibodi, rapid tes antigen dan RT PCR. ‘’Sebetulnya akurasi dari ketiga tes itu cukup baik dan  bisa dipertanggungjawabkan, asal waktu pengambilan sampel tepat,” papar Julian. Menurutnya, kesalahan hasil tes bisa saja terjadi bila dalam proses preparasi nya terjadi kesalahan. Sekali lagi hasil tes tersebut sangat tergantung pada proses pengambilan sampel, sehingga harus dilakukan oleh tenaga yang memiliki kualifikasi yang sesuai berdasarkan keahlian dan kemampuan mereka. Menurut Julian, karena alasan itu, maka sejumlah negara, termasuk negara tetangga Malaysia, tidak merekomendasikan rapid tes dalam memastikan Covid-19. Mereka hanya memberlakukan protokol kesehatan yaitu menggunakan masker, mencuci tangan, physical distancing dan social distancing. Bila muncul gejala Influenza like illness, yang dilakukan adalah melakukan pengambilan sample swab untuk tes PCR. ‘’Namun memang di awal pandemik hal itu tidak bisa dilakukan di Indonesia, karena selain biaya yang mahal, juga karena ketersediaan alat dan reagen yang sangat minim bahkan bisa saya sebut amburadul. Kemudian muncul inisiatif pemerintah dengan menggunakan rapid tes yang sebenarnya tidak cocok untuk pandemik,’’ paparnya. Herd imunity Menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan telah terjadi herd imunity di Indonesia, apt Julian mengatakan, tidak bisa begitu saja menyimpulkan, meskipun fakta yang ditemukan menyiratkan hal itu. Fakta itu, makin banyaknya mereka yang teridentifikasi positif Covid-19 namun mampu bertahan dan sembuh, sementara obat yang pasti belum ditemukan. ‘’Sayangnya, di Indonesia, pada saat pandemik, hampir semua korban yang meninggal diberikan stemple Covid-19 tanpa penelitian lebih jauh, apa latar belakang penyakit  atau komorbid yang diderita pasien.  Karena ketiadaan informasi mengenai komorbid ini, menjadikan ketakutan yang luar biasa di tengah masyarakat,’’ urainya. Sebab, lanjutnya, persoalan Covid-19 tidak hanya menjadi masalah medis, tetapi juga menjadi persoalan sosial. Korban Covid-19 harus dimakamkan di pemakaman khusus, anggota keluarga harus diisolasi dalam jangka waktu tertentu.  

Editor: Kesit B Handoyo

Tags

Terkini

Pra Rapat Kadin Bidang Perdagangan Bersama

Selasa, 16 November 2021 | 16:38 WIB
X