• Minggu, 24 Oktober 2021

IKFA Bersama Duta Besar Korea Selatan Hadiri ‘Asia Traditional Orchestra’

- Kamis, 7 November 2019 | 08:36 WIB
WhatsApp Image 2019-11-07 at 08.28.59
WhatsApp Image 2019-11-07 at 08.28.59

Indikatornews.com Ketua Umum IKFA, Adhi Wargono, menghadiri 'Asia Traditional Orchestra' yang digelar di Balai Kartini, tadi malam (6/11), yang juga turut dihadiri oleh Duta Besar Korea Selatan di Indonesia, H. E. Mr. Kim Chang-beom. Korea Foundation bersama dengan Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia bekerja sama mengadakan ‘Asia Traditional Orchestra’, yang didirikan sebagai salah satu hasil dari “Korea-ASEAN Special Summit” tahun 2009 dengan tujuan untuk mempersatukan Asia melalui musik.
-
Dubes H. E. Mr. Kim Chang-beom berfoto bersama pemusik orkestra. Setiap tahun, sekitar 40 seniman terpilih mewakili Korea dan negara-negara ASEAN untuk membagikan inspirasi musik mereka dan menciptakan mahakarya harmonis menggunakan instrumen tradisional. Orkestra ini mempertemukan pemusik yang memainkan alat musik tradisional dari 11 negara, yaitu Korea, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. ‘Asia Traditional Orchestra’ merupakan acara rangkaian dari Festival Korea yang digelar sejak bulan Oktober, lalu. Festival Korea merupakan rangkaian festival seni dan budaya yang bertujuan untuk memperkenalkan berbagai ragam budaya dan seni Korea.
-
Dubes H. E. Mr. Kim Chang-beom berjabat tangan dengan Ketua Umum IKFA, Adhi Wargono. Ada sekitar 4 buah lagu yang dibawakan dalam ‘Asia Traditional Orchestra’ yang terbagi menjadi beberapa bagian. Beberapa di antaranya:
  1. “Sail off the Boat” – “My Love Mongryong”
“Sail off the Boat” adalah sebuah lagu rakyat yang menceritakan tentang berlabuhnya sebuah kapal. Cerita ini merupakan sebuah simbol harapan dalam budaya Korea. Dan, ditampilkan dengan ritme yang riang dan gegap gempita. “My Love Mongryong” merupakan versi modern pansori (dongeng musikal Korea), Chunhyangga. Bercerita tentang kisah cinta antara Chunyang dan Mongryong yang dinyanyikan dengan suara merdu untuk menggambarkan dua sejoli yang sedang jatuh cinta.
  1. “Shinmodeum”
Sebuah bentuk seni samulnori (musik perkusi tradisional) dan gugak (musik orkestra tradisional). Karya ini terdiri dari tiga bagian simfoni: “Pemakaman Aerial”, “Awal Mula”, dan “Penciptaan”.
  1. “Yamko Rambe Yamko – Janger”
Merupakan medley dua lagu tradisional Indonesia: “Yamko Rambe Yamko” yang berasal dari tanah Papua, bercerita tentang kesedihan peperangan, dan “Janger” yang bercerita tentang kebahagiaan petani setelah selesai bertani, ditampilkan dengan seluruh pemusik dan penyanyi yang menciptakan suara kecak – sebuah tarian Hindu yang merupakan perpaduan drama musikal dan tari Bali.
  1. “One Asia”
Merupakan cerminan konsep ‘persatuan dalam keanekaragaman’ dan ‘keanekaragaman dalam persatuan’. Karya ini menggabungkan sebelas frasa musik pendek yang masing-masing mewakili sepuluh negara ASEAN dan Korea. Masing-masing dari sebelas potongan musik ini menggambarkan nuansa, estetika, dan karakteristik masing-masing masyarakat serta budaya ASEAN dan Korea. (nika rakasiwi)

Editor: Nika Rakasiwi

Terkini

IKFA Menjalin Kerja Sama Dengan Penandatanganan MoU

Kamis, 12 September 2019 | 22:39 WIB

IKFA Jalin Kerjasama Lebih Erat dengan Asosiasi Korea

Jumat, 6 September 2019 | 18:11 WIB

Peserta lari gembira Saranghae Merdeka 5K Meriah

Minggu, 25 Agustus 2019 | 18:19 WIB

Saranghae Merdeka 5K Diikuti 3000 Peserta

Rabu, 21 Agustus 2019 | 08:28 WIB

3rd K-Quiz Golden Bell

Sabtu, 18 Mei 2019 | 19:35 WIB

IKFA Bermitra dengan KMA Korea

Rabu, 27 Maret 2019 | 14:31 WIB
X