• Kamis, 21 Oktober 2021

Penanganan Dampak Perdagangan Bebas MEA

- Rabu, 9 Mei 2018 | 02:54 WIB
danpak perdagangan bebas
danpak perdagangan bebas

 Tasikmalaya, Indikatornews.com - Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) membentuk pasar tunggal dan menjadikan ASEAN sebagai daerah perdagangan bebas yang meliputi seluruh komponen aktivitas ekonomi (Barang, Tenaga Kerja terampil, Investasi, Modal dan Jasa). Kemudian menciptakan kondisi kompetitif antar negara, demi peningkatan ekonomi serta menghadirkan pemerataan ekonomi bagi seluruh warga masyarakat kawasan ASEAN. “UMKM harus meningkatkan daya saing dengan mempunyai legalitas, sehingga bisa meningkatkan kualitas produk, packaging/kemasan dan pemasarannya serta bisa menguasai potensi pasar dalam negeri. Karena dari 600 juta masyarakat ASEAN, 45 persennya (260 Juta) ada di Indonesia,” kata Asisten Deputi Perlindungan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM RI, Ir. Karimuddin, MM pada Temu Konsultasi KUKM Dalam Rangka Penanganan Dampak Perdagangan Bebas MEA yang berlangsung di Hotel Fave Kota Tasikmalaya, Selasa (08/05/2018). Asdep Perlindungan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM menjelaskan, UMKM Kabupaten Tasikmalaya sudah bisa menguasai pasar Tanah Abang. Namun bisa lebih berkembang lagi karena Kabupaten Tasikmalaya sudah mempunyai PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu), dimana setiap  permasalahan menyangkut produksi, pembiayaan, IT, pemasaran dan sebagainya bisa ditangani oleh masing-masing konsultan yang ada di PLUT, ujarnya. Sementara itu Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Tasikmalaya Drs. Rahayu Jamiat Abdullah, S.Sos, M.Si mengungkapkan, sarana prasarana pendukung PLUT terus dibenahi dan mengevaluasi. Setiap kelemahan serta membuka mind set bahwa hidup itu adalah kompetisi. Persoalan kita ini ada di daya saing, dan itu terus diperbaiki serta ditingkatkan sehingga mampu bersaing di MEA, jelasnya. Rahayu meyakini kreatifitas masyarakat Kabupaten Tasikmalaya menjadi modal berharga berkembangnya UMKM, serta bisa bersaing di MEA. Untuk itu pihaknya terus melakukan pembinaan dan pelatihan terutama dalam upaya meningkatkan kualitas produk termasuk membenahi kontrol kualitasnya sehingga memiliki daya saing tinggi. “Dari sisi daya saing, Indonesia menempati urutan ke-4 setelah Singapura, Thailand dan Malaysia. UMKM harus mempunyai keinginan kuat untuk bisa Struggle dengan terus mengembangkan keterampilan/keahliannya serta terus membangun dan mengimunisasi diri agar tetap tumbuh dan berdaya saing,” ujar Rahayu. Selanjutnya, pendamping MEA Kabupaten Tasikmalaya H. Asep Sambas juga mengatakan, peluang UMKM terbuka untuk ekspor dengan memahami kekuatan kita mencakup kualitas produk dan sistem kontrol kualitas, managemen produksi, keuangan, pemasaran serta jejaring kerja. “Untuk melangkah ke Pasar global diperlukan pemahaman regulasi ekspor dan impor, karakteristik negara tujuan dan menyiapkan produk yang berdaya saing (layak ekspor),” jelas Sambas. Lanjutnya, langkah lainnya adalah kemasan/packing, membuat kelompok usaha bersama dan membagi tugas sesuai kompetensi masing-masing, untuk mengantisipasi volume permintaan diluar kemampuan, membuat sample, negosiasi harga dan sistem pembayaran dan kepabeanan (Bea Cukai) serta net working termasuk untuk mengadakan pameran tingkat Internasional, tambahnya. (Vn)  

Editor: Wartawan Online

Tags

Terkini

KN Gajah Laut-404 Terima Kunjungan Siswa SMA Kosgoro

Kamis, 23 Januari 2020 | 21:10 WIB

Merek Popular di Era Digital

Sabtu, 27 Juli 2019 | 10:52 WIB

Menkeu Tegaskan Pelemahan Rupiah Faktor Eksternal

Kamis, 4 Oktober 2018 | 23:34 WIB

Menkeu: Kita Terus Melihat Perkembangan

Selasa, 2 Oktober 2018 | 23:53 WIB

Laporan Keuangan Desa Cukup Satu Lembar

Kamis, 2 Agustus 2018 | 01:53 WIB

Menko Perekonomian Luncurkan Sistem OSS

Senin, 9 Juli 2018 | 23:48 WIB

Penanganan Dampak Perdagangan Bebas MEA

Rabu, 9 Mei 2018 | 02:54 WIB

Menteri ESDM Setujui RUPTL PT PLN 2018-2027

Rabu, 14 Maret 2018 | 05:24 WIB

Menkeu: Gaji Presiden dan Wapres Naik adalah Hoaks

Senin, 12 Maret 2018 | 09:48 WIB
X